Pengelolaan Pariwisata disaat pandemi Covid-19

Pengelolaan Pariwisata disaat Pandemi Covid-19


- PERKEMBANGAN PARIWISATA DI INDONESIA PADA MASA PANDEMI COVID-19-

Pandemi Covid-19 ini berdampak besar terhadap perkembangan industri di Indonesia bahkan dunia,termasuk perkembangan di industri pariwisata. Dampak Covid-19 ini sangat dirasakan dalam sektor pariwisata karena industri pariwisata di Indonesia merupakan sumber penghasil devisa negara terbesar setelah komoditas minyak dan gas bumi serta kelapa sawit. Selain itu industri pariwisata juga memiliki keterikatan dengan industri lain yaitu perhotelan, tranportasi, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) terutama yang menghasilkan cindera mata dan kuliner, restoran, biro perjalanan wisata dan pemandu wisata. Industri pariwisata mengeluhkan kehilangan pendapatan selama Januari sampai April 2020. Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengklaim, akibat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) selama masa pandemi, industri pariwisata merugi sampai Rp85,3 triliun. 
     Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terpukul pada awal adanya pandemi Covid-19 ini karena hampir seluruh kawasan wisata di Indonesia di tutup dan juga mengalami penurunan jumlah wisatawan. Berdasarkan data Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) jumlah kunjungan wisatawan di seluruh dunia menurun 44 persen selama pandemi jika dibandingkan tahun lalu. Dalam sebuah diskusi online awal bulan lalu, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrasturktur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Hari Santosa Sungkari, memprediksi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mentok di angka 4 juta orang. Anjloknya kunjungan ini praktis berimbas kepada pemasukan pelaku-pelaku pariwisata di daerah. Namun, terus meningkatnya kasus positif Covid-19 ini dinilai juga menjadi tantangan dalam pemulihan sektor pariwisata Indonesia. 
      Seiring berjalannya waktu, kondisi industri pariwisata berangsur pulih. Obyek-obyek wisata di Indonesia mulai dibuka dengan menerapkan protokol kesehatan dan mensterilkan semua kawasan wisata dengan disenfektan. Adapun cara yang dilakukan pengelola dalam menghadapi kebiasaan baru pasca Covid-19 yaitu:
1. Perhatian yang tinggi terhadap kebersihan
Setelah masyarakat terbiasa untuk menjaga kebersihan selama pandemi Covid-19, berbagai tempat pariwisata akan meningkatkan kepeduliannya terhadap kebersihan. Hal ini dikarenakan kewaspadaan masyarakat yang terus melekat tentang penyebaran virus. Berbagai tempat wisata, termasuk akomodasi dan transportasi, akan dilengkapi dengan tempat mencuci tangan atau hand sanitizer. Selain itu, akan ada protokol-protokol baru yang harus dilakukan sebelum memasuki tempat wisata.
2. Menurunkan tarif hotel sementara
        Untuk menarik minat masyarakat menginap, kebanyakan hotel akan memberikan penawaran harga yang lebih rendah daripada biasanya. Keputusan ini akan diambil mengingat banyaknya masyarakat yang masih berpikir dua kali tentang kebersihan di hotel atau penginapan. Penurunan tarif ini akan terjadi selama beberapa bulan hingga akhirnya hotel bisa kembali rebound dan menetapkan harga normal.
3. Melakukan promosi safety and healthy of tourism ke turis internasional
4. Membuat branding strategi baru misalnya no worries of corona, enjoy your holiday


Selanjutnya, ada tiga hal yang harus diperhatikan industri pariwisata di tempat tujuan atau tempat lokasi wisata itu berada yakni (1) memperhatikan protokol kesehatan yang bersifat wajib atau mandatory dan menjaga kebersihan lokasi wisata. (2) Menjaga keselamatan dan keamanan (sistem mitigasi diperkuat baik bencana alam dan non-bencana alam seperti wabah penyakit). (3) Menjaga kenyamanan (hospitality), melakukan pembangunan infrastruktur dasar misalnya jalan dan jembatan di tempat wisata. Pada akhirnya kita menuju ke new discourse of tourism serta diharap bisa memulihkan ekonomi pariwisata kita ke depan dengan tujuan akhirnya yakni kesejahteraan masyarakat. Dengan cara ini industri pariwisata di Indonesia akan berangsur membaik pasca pandemi Covid-19.

STRATEGI PEMERINTAH DALAM MENGHIDUPKAN KEMBALI SEKTOR PARIWISATA  DI ERA NEW NORMAL
Tak dapat dipungkiri bahwa selama pandemi berlangsung semua sektor ekonomi mengalami penurunan yang sangat signifikan. Sektor pariwisata juga merupakan  salah satu sektor yang tidak luput  dari pengaruh adanya pandemi covid-19. Selama pandemi ini dapat dihitung bahwa Indonesia kehilangan 1,3 juta potensi kunjungan wisatawan asing hanya dalam kurun waktu 1 bulan. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi sektor pariwisata ini apabila pandemi terus berlangsung.  Tentu juga akan sangat berpengaruh bagi para pelaku pariwisata, contohnya adalah maraknya phk bagi karyawan hotel. Akan tetapi per tanggal 7 April 2020, Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia memastikan bahwa tidak ada lagi karyawan hotel yang di phk pada saat pandemi covid-19 berlangsung. Pernyataan ini sedikit memberi angin segar bagi para karyawan hotel. 
Lesunya sektor pariwisata ini harus segara dipulihkan agar tidak makin memperburuk kondisi ekonomi di Indonesia, dikarenakan pariwisata merupakan salah satu penyumbang terbesar ekonomi di Indonesia. Pemerintah telah mempersiapkan beberapa strategi untuk memulihkan kembali sektor pariwisata.
 Strategi yang dikeluarkan oleh pemerintah antara lain :
1. Memprioritaskan orang atau manusia.
Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan tentang Protokol Kesehatan di Tempat dan Fasilitas Umum dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian COVID-19, maka pengelola sektor pariwisata wajib menerapkan Clean (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keselamatan), dan Environment (Ramah Lingkungan) atau yang sering disingkat CHSE.
2. Aktivasi kanal komunikasi recovery yang aktif bertujuan untuk menjaga citra baik pariwisata Indonesia
3. Fokus pada destinasi utama atau prioritas.
Pemerintah memfokuskan 10 destinasi prioritas yaitu Danau Toba di Sumatera Utara, Pantai Tanjung Kelayang di Kepulauan Bangka Belitung, Pantai Tanjung Lesung di  Banten, Kepulauan Seribu di DKI Jakarta, Candi Borobudur di Jawa Tengah, Taman Nasionall Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, Mandalika DI Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, Pulau Morotai di Maluku Utara, dan Taman Nsional Wakatobi di Sulawesi Tenggara.
4. Mengutamakan wisatawan domestik dikarenakan wisatawan asing akan sulit masuk ke Indonesia. Tercatat ada 68 negara yang memblokir  sementara passport Indonesia dan sejumlah negara lainnya yaitu anatara lain adala  Amerika Serikat, Jerman, Italia, Turki, Arab Saudi, India, Sri Lanka, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Makau, Vietnam, Kamboja, dan Malaysia.
5. Stimulus permintaan 
Yaitu dengan intervensi untuk promosi dan lain-lain
6. Fokus pada 3 subsektor uatama unggulan ekonomi kreatif (kuliner, fashion dan kriya/kerajianan).

Pengelolaan Pariwisata Di Bali Saat Pandemi Covid-19

   Dalam enam bulan setelah dilanda pandemi COVID-19, perekonomian Indonesia tahun 2020 mengalami penurunan yang cukup signifikan menjadi -5,32%. Jika pertumbuhan ekonomi kembali menyusut pada kuartal ketiga, maka Indonesia pasti akan memasuki ambang resesi. Sejak pandemi virus SARS-CoV-2 banyak sektor industri juga mengalami kerugian, termasuk pariwisata. 

    Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencontohkan, hingga April 2020, total kerugian industri pariwisata Indonesia mencapai 85,7 triliun rupiah. Ribuan hotel dan restoran terpaksa tutup, dan banyak maskapai penerbangan serta biro perjalanan juga merugi. Enam bulan dilanda pandemi COVID-19 telah menghantam perekonomian Indonesia.

    Menurut data Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO), selama pandemi, dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah wisatawan global turun 44%. Dalam diskusi online awal bulan lalu, Hari Santosa Sungkari, Wakil Menteri Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, memperkirakan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia (wisman) dibatasi hingga 4 juta orang. 

    Meski di Bali menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan domestik dan mancanegara, namun untuk meredam penyebaran virus corona di tanah air, pintu masuk wisatawan asing harus ditutup hingga akhir tahun ini. Pulau Dewata juga mencatat kerugian pariwisata bulanan sebesar Rp 9,7 triliun.

    Penurunan jumlah pengunjung ternyata berdampak pada pendapatan industri pariwisata di daerah. Namun, terus meningkatnya kasus positif COVID-19 dianggap menjadi tantangan bagi pemulihan industri pariwisata Indonesia. Oleh karena itu, untuk membantu mereka yang menderita, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah merumuskan berbagai kebijakan, salah satunya melalui hibah pariwisata.

    Pada Jumat (04/09) sore, Fadjar Hutomo, Wakil Menteri Perindustrian dan Penanaman Modal Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengatakan: "Saat ini kami sedang mengerjakan petunjuk teknis dengan Dirjen Perimbangan Keuangan Daerah Kementerian Keuangan."

    Fadjar juga menjelaskan bahwa hibah tersebut digunakan untuk “meningkatkan pelaksanaan CHSE (bersih, sehat, aman, dan ramah lingkungan) guna meningkatkan kemauan berbagai daerah dan industri pariwisata di daerah untuk melaksanakan perjanjian sanitasi.”

    Bayu, yang tinggal di Denpasar, mengatakan terpaksa kehilangan pekerjaan karena tidak ada turis asing yang berkunjung selama pandemi. Pria yang menggeluti bisnis travel sejak 2011. Dia mengaku sebelum pandemi, dia bisa menerima rata-rata 30 turis per bulan. Jika memasuki masa puncak liburan, jumlah ini bisa berlipat ganda. Kebanyakan tamunya adalah turis Australia.

“Jujur saya enggak ada kerjaan (lain), pandemi saya ikut istri. Istri masih kerja. Kerjaan istri di kantor… Mau (kerja) apa? Sekarang posisi di Bali sudah enggak ada apa-apa,“ tutur pria bernama lengkap Bayu Charisma Aji ini.

    Demikian halnya dengan I Wayan Arya Ariawan, pengelola restoran hotel berbintang di kawasan Sanur. Saat pandemi meletus, hotel hanya mempekerjakannya dua hari seminggu. Padahal, gaji bulanannya paling banyak hanya bisa dipotong 70%. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Arya dan istrinya kini berjualan selai.

“Kami berjualan jamu, tentunya lebih aman dan lebih mudah,“ ujar Arya.

Merugi Rp 9,7 T per bulan

    Dalam kondisi saat ini, Bayu juga berharap pemerintah dapat memberikan bantuan insentif kepada perusahaan pariwisata di seluruh Bali. Ia pun meminta pemerintah menekan biaya pemeriksaan tes corona di sana.

“Travel bis kalau masuk ke Bali di pelabuhan sekali rapid (test) 150 ribu satu orang, kalau 50 orang satu bis? Itu kan kita keluarin biaya sangat besar. Dari pemerintah kan harusnya kasih bantuan,“ imbuh Bayu.

    Lebih lanjut dikatakannya, saat ini jika wisatawan datang ke Bali, para pelaku bisnis pariwisata Bali akan saling berbagi informasi. Dia berkata: "Kami kaku satu sama lain. Jika ada tamu yang masuk, kami akan berbagi satu sama lain. Misalnya, saya punya tamu, dan teman saya belum pergi, jadi saya akan berbagi dengan teman itu."

 Taufan menilai, wabah korona telah mengubah paradigma industri pariwisata yang semula menitikberatkan pada kuantitas pariwisata menjadi kualitas pariwisata. Dengan strategi pemasaran dan layanan yang tepat, meskipun di luar proporsi jumlah kunjungan, konsumsi wisatawan mungkin memiliki nilai yang besar. Oleh karena itu, Taufan mendorong pemerintah untuk memperkuat fasilitas yang ada dan menyiapkan lokasi yang mungkin menjadi destinasi normal baru sebelum Bali dibuka untuk wisatawan mancanegara.

“Semuanya kita selektif, terbatas, dan bertahap. Kalau yang outdoor cari yang aman. Kalau yang belum aman area-area yang berisiko tinggi seperti klub malam, spa. Masih perlu ditinjau mana daerah hijau mana daerah merah,“ ujar Kepala Dinas Pariwsata Provinsi Bali ini.


DAFTAR PUSTAKA :

https://www.youtube.com/watch?v=cUKudehjwFo https://sukabumiupdate.com/detail/bale-warga/opini/77966-Kondisi-Pariwisata-Pada-Masa-Pandemi-Covid-19



Komentar